
Di era mitologi Yunani, Homer kian mashur lewat dua karya puisinya. Menorehkan tinta di tiap katanya.
Iliad dan Odyssey, itulah wiracrita yang makin masyhur sampai sekarang yang ditorehkan Homer di abad ke 8 Sebelum Masehi (SM)
Iliad berkisah di kemarahan Achilles selama berminggu-minggu hingga terakhir Perang Troya. Lalu, Odyssey menceritakan perjalanan pulang Odysseus yang penuh rintangan ke Ithaca.
Epik-epik di dua kisah itu terlambang sebagai puisi terpenting dalam tradisi Klasik Eropa. Juga sampai mempengaruhi pendidikan dan budaya. Lewat kultural cerita langsung, sampai serat tulis yang tersaji.
Namun tidak dengan kebiasaan pengobatan. Bahkan nan jauh setelah era Homer, di abad ke 6 SM, penyakit selalu dikaitkan dengan campur tangan ilahi. Tanpa ilmu medis.
Pengobatan adalah sakral. Tentu dengan praktik di tempat suci.
Begitu seterusnya sampai di abad ke 4 SM, di era kebangkitan filsuf. Masuklah era penyakit tidak lagi dilihat sebagai hukuman ilahi.
Dunia medis bergerak
Abad ke-4 SM, adalah zaman keemasan kedokteran Yunani. Adalah Hippocrates. Hadir dan secara luas dianggap sebagai “Bapak Kedokteran”.
Hipprocates yang titen selalu mencatat. Apa dan kenapa. Sebutlah sebab dan akibat. Kemudian mengembangkan teori tentang penyebab penyakit dan pengobatannya.
Di masa itu, jalan terjal Hipprocates memisahkan antara ranah kepercayaan pengobatan, ilahi, dan bahkan sihir bergolak.
Hippocrates merevolusi pengobatan. Melepas takhayul. Dan mendasarkannya pada observasi dan penalaran logis.
Era Hippocrates terus berjalan. Muncul terus perkembangan zaman kedokteran. Meskipun, terkadang, dunia sakral pengobatan melalui dunia non medis masih terjadi.
Kini, di era abad ke 20 setelah masehi, pengobatan kian kompleks. Tepatnya di tahun 2026.
Bahkan bukan lagi sekedar apa dan bagaimana obat itu. Tapi, bagaimana caranya mendapat obat itu.
Sama seperti di era Hippocrates. Kini pun ada sultan, ada juga masyarakat yang sulit mengakses pengobatan.
Pun demikian di Banyumas saat ini. Ada yang mampu berobat mandiri. Lalu ada yang harus menggunakan kartu sakti bernama BPJS di era 2026.
Uniknya, ada juga masyarakat yang tak memiliki BPJS, namun membutuhkan pengobatan.
Tapi, di Banyumas kini, masyarakat boleh lega. Yang tak memiliki jaminan kesehatan cukup tunjukan KTP. Maka akses pengobatan tercukupi. Dijamin negara. Dijamin pemeritah Banyumas.
Syaratnya, gunakan fasilitas kesehatan, baik Puskesmas atau rumah sakit yang bermitra dengan BPJS. Cukup.
Maka, kalau Hipprocates mencatatkan diri mampu memisahkan pengobatan dan dunia takhayul dalam pengobatan awal. Bolehlah mengutip bapak kedokteran yang luar biasa dalam dunia Islam.
“Khawatir adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh pengobatan, dan kesabaran adalah awal dari kesembuhan,” Ibnu Sina. (Tangkas Pamuji- Founder Love Purwokerto)